Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) mengadakan Workshop Penguatan Kebhinekaan di Ruang Seminar Gedung H lantai 3 pada Senin (13/7). Kegiatan ini diikuti oleh 174 mahasiswa PPG dari bidang studi Bimbingan Konseling (BK) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Workshop Penguatan Kebhinekaan yang diisi oleh narasumber Prof. Dr. Suwarto, M.Pd. dilaksanakan untuk memperkuat wawasan kebhinekaan, nasionalisme, dan rasa toleransi sebelum terjun ke dunia pendidikan.
Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., dalam arahannya menjelaskan bahwa bela negara merupakan salah satu bagian penting dari kurikulum softskill pada pendidikan di Program PPG. Guru tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik saja, melainkan karakter kuat adar dapat menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada peserta didik. Nilai yang perlu diperkuat bagi calon pendidik adalah disiplin, cinta tanah air, rasa toleransi, serta persatuan di tengah tantangan menurunnya semangat nasionalisme dan meningkatnya potensi polarisasi masyarakat.
“Guru harus memiliki karakter kuat karena akan menanamkan nilai-nilai displin, cinta tanah air, toleransi, dan persatuan, kepada generasi bangsa. Nilai-nilai tersebut perlu diperkuat supaya Indonesia tetap menjadi bangsa yang kokoh,” ujar Prof. Farida.
Koordinator PPG Univet Bantara, Dr. Mukti Widayati, M.Hum., menjelaskan bahwa kegiatan workshop penguatan kebhinekaan adalah program dari Dirjen Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTKPG) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen), yang wajib bagi Lembaga Penyelenggara Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk menyelenggarakan program ini. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa siap menjadi guru profesional yang memiliki sikap toleran, menghargai keberagaman, serta siap mengabdi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah yang jauh serta kekurangan tenaga pendidik.
Prof. Dr. Suwarto dalam materinya memaparkan konsep penguatan kebhinekaan melalui lima dimensi, yaitu kebhinekaan global, kebhinekaan rasional, kebhinekaan dalam skala personal, kebhinekaan di lingkungan sekolah, serta mewujudkan sekolah yang damai dan inklusif. Seluruh upaya membangun budaya kebhinekaan harus dimulai dari perubahan sikap individu sebelum berkembang menjadi budaya positif di lingkungn sekolah.
“Perubahan perilaku setiap individu menjadi fondasi utama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang harmonis, inklusif, dan mampu menumbuhkan semangat saling menghargai di tengah keberagaman,” imbuhnya.
(Admin)

