Sukoharjo — Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Veteran Bangun Nusantara menggelar kegiatan Workshop Kampanye Anti-Bullying dengan tema “Berteman Tanpa Perundungan, Kuliah Jadi Menyenangkan”. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Seminar Gedung H lantai 3, Univet Bantara, pada Selasa (9/6). Kegiatan ini diikuti 174 mahasiswa PPG Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026 dan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd..
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum.. Dalam sambutannya, Rektor mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut karena dinilai sangat krusial bagi masa depan dunia pendidikan.
“Kegiatan ini memberikan bekal kepada Anda (mahasiswa PPG Calon Guru), yang nanti akan menjadi pendidik, tentang pentingnya memastikan peserta didik aman dan tidak mengalami bullying. Sebagai calon guru, Anda harus berperan aktif untuk mengampanyekan anti-bullying karena jika sampai terjadi, dampaknya akan sangat besar bagi korban,”
ujar Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum.
Koordinator PPG Univet Bantara, Dr. Mukti Widayati, M.Hum., dalam laporannya memaparkan bahwa kegiatan workshop ini dirancang secara komprehensif untuk memberikan wawasan mengenai bentuk-bentuk perundungan, dampak psikologis, serta strategi mencegah terjadinya perundungan. Beliau mengungkapkan bahwa selain workshop, PPG juga mengadakan kegiatan pra-acara berupa lomba pembuatan poster anti-bullying.
Sebagai puncak acara, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd, selaku narasumber memaparkan materi utama yang mengajak para mahasiswa calon guru untuk memahami esensi pendidikan karakter dan peradaban dalam ekosistem belajar. Guru tidak boleh hanya sekadar mentransfer ilmu, melainkan harus memiliki empati yang tinggi untuk memahami posisi psikologis peserta didik. Prof. Sutrisna menyoroti bahwa banyak praktir perundungan di masyarakat terjadi tanpa disadari akibat normalisasi sosial. Kebiasaan mengolok-olok atau memberikan julukan kepada teman berdasarkan kondisi fisik (seperti menyebut “gemuk” atau “pincang”) sering kali dianggap hanya sebagai candaan atau gurauan biasa, padahal hal tersebut mengikis kepercayaan diri dan memicu trauma mendalam bagi korban. (Admin)

